Peraturan Lomba Puisi

  • Posted on: 12 October 2015
  • By: Helmi Farid Fasya

PERATURAN :

1.     

Peserta maksimal 2 orang dari setiap sekolah.

2.     

Peserta wajib hadir 30 menit sebelum acara dimulai

3.     

Peserta diwajibkan daftar ulang.

4.     

Pada saat berlombaan, jika sampai 3 kali dipanggil dan tidak hadir maka dinyatakan gugur

5.     

Pada saat perlomaan dimulai, peserta harus menjaga ketenangan (tidak boleh berisik)

6.     

Peserta harus siap membacakan 3 puisi untuk putaran pertama dan putaran kedua yang di sediakan oleh panitia.

7.     

Peserta tidak menentukan sendiri puisi yang dibacakan, melainkan puisi sudah disediakan panitia dan puisi yang dibacakan akan melalui sistem pengundian dari 3 puisi yang di siapkan pada masing–masing putaran.

8.     

Peserta tidak boleh mengurangi atau menambahkan kata pada puisi yang telah disediakan.

9.     

Peserta tidak boleh menggunakan alat pengiring dalam bentuk apapun (main sendiri atau dimainkan orang lain)

10. 

Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

 

 

KRITERIA PENILAIAN :

1.   

Penghayatan

2.   

Ekspresi / Mimik

3.   

Vokal dan intonasi

4.   

Totalitas dan keutuhan pembacaan puisi

 

Putaran Pertama:

1.     

Kita Dalam Akhir Karya Mutiara Putri Dalilah

2.     

Debu Berdosa Karya Sovy Agilyza Ader

3.     

Menyesal Karya Ali Hasjmy

Putaran kedua :

1.     

Jingga di Ujung Senja Karya Fitria Nurhaliza

2.     

Aku Karya Aqila Fadia Wahono

3.     

Waktu dan Alur Karya Azarine N.S

 

 

 

DAFTAR PUISI-PUISI PUTARAN PERTAMA :

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Karya Mutiara Putri Dalilah

Kita Dalam Akhir

 

Kau bilang kau utuh

Kau bilang kusempurna

Kau bilang kita adalah takdir

 

Kau menghantamku dengan untai kata pisah

Sekelebat aku hancur

Rasa ini mati

Tak lagi dicintai

 

Utuhmu hanya dusta

Sempurnaku adalah bualan

Takdir bagai tak mengadili

Dan kau hanyalah kasih yang terpisah

 

Karya  Sovy Agilyza Ader

Debu Berdosa

 

Beralas kayu

Bertimpa ilham

Tersusun cahaya

Terikat debu

 

Getaran langkah menuju surga

Terhalang sebentang kayu

Sunyi gelap kotor hampa

Hati berdosa

Langkah neraka

 

Siapa peduli

Mereka tak bernyawa

Mati

Tersesat debu

 

Karya  Ali Hasjmy

Menyesal

 

Pagiku hilang sudah melayang

Hari mudaku sudah pergi

Sekarang petang datang membahayang

Batang usiaku sudah tinggi

 

Aku lalai di pagi hari

Beta lengah di masa muda

Kini hidup meracun hati

Miskin ilmu miskin harta

 

Akh apa guna kusesalkan

Menyesal tua tiada berguna

Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan

Atur barisan di hari pagi

Menuju ke arah padang bakti

 

 

DAFTAR PUISI-PUISI PUTARAN KEDUA :

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Karya Fitria Nurhaliza

Jingga di Ujung Senja

 

Pilu sedih…Luka sakit…Tergores berdarah

Debu Pekat intan berkarat

Emas berat sutra beralas

Mendangkal samudra kalbu

 

Ngana tidur beralas mawar…Ngana makan beralas kaca

Ngana sumringah…Ngana bingar…Ngana lalai masa muda

Ngana punya dunia… Ngana punya ceria

Tapi apa daya beta hanya punya bersandiwara ditengah gusar menyaksikan ingar

Nanar nian… Sungguh nanar

 

Tuhan…

Syukurku tetap tambahkan…Tirakatku mohon sabarkan

Hamba hanyalah hambamu yang penuh dosa… Mamak hanyalah mamakku yang penuh cinta

Gusarku janganlah jadi berang

Tapi beta punya pengetahuan terangkanlah

Karena hanya itu harta beta punya

 

Oh mamakku 

Baktiku tak peduli mereka foya foya…Tak peduli lumbung padi seadanya

Tak peduli perih beta bersandiwara…Demi menggapai cakrawala

Demi doa mamak kepada tuhan untuk beta

Demi harga diri

Jingga di ujung senja

 

 

Karya Aqila Fadia Wahono

Aku

 

Cacian hinaan makian dan cemoohan

Telah menjadi teman paling setia dalam hidupku

Tidak seperti kalian

Yang bisanya hanya mengoreksi

Dan tanpa pernah tahu cacat diri

Jauh dari sudut sana

Inginku teriakan pada kalian semua bahwa aku…

Masih selalu ingin hidup dengan tenang

Hari ini dan seterusnya… Meski aku tahu itu tak mudah

 

Meski sesak aku masih bernafas

Meski sempit aku masih bergerak

Meski sulit aku masih bertahan

Meski gelap aku masih berjalan dan…

Meski jatuh aku masih dapat bangkit lagi

 

Ku tempuh tembok raksasa penghalang ini

Keyakinan diri menjadi tombak kehidupan

Di dunia yang penuh sesak ini…

Sampai suatu saat terbaik nanti

Akan ku tunjukkan pada kalian

Yang telah menganggap diri sempurna

Bahwa aku dapat menjadi yang terbaik…

 

                                     Karya Azarine N.S

Waktu dan Alur

 

Menunggu itu hal yang tidak mudah

Tak mudah kau untuk bertahan

Tak mudah juga kau untuk melepaskannya

Menunggu itu sakit

 

Menunggu itu bimbang

Terkadang kau tak tau apakah itu pantas ditunggu

Atau malah kau tak tau itu pantas ditinggalkan

Bimbang itu selalu menyelimuti benakku

 

Terkadang aku tak tau menunggu itu tindakan terbaik atau tidak

Terkadang aku tak tau menunggu itu suka atau duka

Aku terkadang terdiam memikirkan itu

Memikirkan mengapa aku harus menunggu

 

Ku tau menungggu itu hal yang tidak menyenangkan

Tetapi ku belajar banyak tentang menunggu

Menunggu membuatku tau arti sabar

Ya sabar menunggu sesuatu yang tak pasti menjadi pasti

 

 

Menunggu sesuatu yang tak terikat menjadi terikat

Menunggu sesuatu yang tak beralasan menjadi alasan kuat

Menunggu itu membutuhkan waktu

 

Waktu untuk memahami arti semuanya akan indah pada waktunya